Pagi itu saya sedang dalam perjalanan ke luar kota memenuhi sebuah undangan pelatihan. Jalanan belum terlalu ramai, tetapi kepala sudah mulai dipenuhi rencana yang harus diselesaikan besok. Perjalanan dengan menggunakan kereta ini ditempuh lebih kurang 8 jam.
Sembari melihat hiruk pikuk jalan dan sesekali melemparkan pandangan ke jendela kereta ini, saya muroja’ah (baca: mengulang kembali) rekaman salah satu sesi Monetizing Expertise yang dibawakan Coach Aji. Niat awalnya sederhana: sekadar mendengarkan kembali materi sambil perjalanan. Ternyata saya malah beberapa kali menghentikan rekamannya dan menuliskan catatan ini.
Materinya sebenarnya sudah beberapa kali saya dapatkan dan ikuti. Lha wong tukang catatnya. hehe
Beberapa gagasannya terasa dekat dengan kehidupan banyak profesional: orang-orang yang sudah bertahun-tahun bekerja, punya pengalaman, punya kemampuan, bahkan sering dimintai bantuan oleh orang lain, tetapi belum pernah benar-benar berpikir bahwa semua itu sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang bernilai.
Semakin didengarkan, semakin terasa bahwa monetizing expertise bukan pertama-tama tentang bagaimana menjual sesuatu. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: mengapa pengalaman dan keahlian kita layak dibayar orang lain?
Dari sesi tersebut, setidaknya ada tiga catatan menarik dan ingin saya bagikan kepada Anda.
#1 Expertise Tidak Selalu Otomatis Menjadi Value
Kita sering mengira bahwa orang akan membayar karena kita ahli. Padahal, keahlian baru menjadi bernilai ketika ia mampu membantu seseorang menyelesaikan masalah atau mencapai sesuatu yang mereka anggap penting.
Dalam sesi ini, Coach Aji menjelaskan bahwa nilai tambah bisa berasal dari skill, pengalaman, pengetahuan, dan berbagai hal yang kita miliki. Tetapi semua itu belum otomatis menjadi value bagi orang lain. Ia menjadi bernilai ketika dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan masalah, terutama masalah yang memang penting bagi orang yang kita bantu.
Pemikiran ini menarik karena sejalan dengan pembahasan Amelia Sordell di bukunya The Personal Branding Playbook. Ia mengajak kita untuk tidak terlalu sibuk mengejar label sebagai “expert”, tetapi lebih fokus pada expertise yang benar-benar dimiliki, perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang dapat menjadi sumber nilai ketika dibawa kepada orang lain.
Ini membuat saya berpikir ulang tentang cara kita melihat pengalaman profesional.
Mungkin selama ini kita terlalu sering bertanya, “Saya ahli dalam bidang apa?” Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah, “Masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?”
Sebab pasar tidak membutuhkan daftar panjang tentang apa yang kita kuasai. Mereka membutuhkan seseorang yang bisa membantu mereka bergerak dari kondisi yang tidak diinginkan menuju kondisi yang lebih baik.
Itulah sebabnya seseorang bisa memiliki pengalaman puluhan tahun, tetapi belum tentu mudah memonetisasinya. Pengalaman tersebut masih menjadi aset pribadi. Ia belum diterjemahkan menjadi value yang jelas bagi orang lain.
#2 Jangan Buru-Buru Mencari Skill Baru
Catatan lain yang menarik adalah pembahasan tentang kombinasi skill.
Di zaman sekarang ketika hampir semua pengetahuan bisa dipelajari dengan relatif mudah, menjadi ahli dalam satu keterampilan tidak selalu membuat kita berbeda. Yang justru bisa menjadi lebih bernilai adalah kemampuan menghubungkan beberapa keahlian yang sebelumnya terlihat tidak berhubungan.
Coach Aji memberikan contoh bagaimana prompting AI, psikologi, dan UI/UX, jika digabungkan, dapat menjadi kombinasi yang lebih jarang ditemukan dibandingkan jika seseorang hanya menguasai salah satunya.
Saya merasa ini relate banget bagi banyak orang yang sedang membangun karier kedua atau mencoba mengembangkan bisnis berbasis keahlian.
Kita sering merasa harus belajar sesuatu yang benar-benar baru agar memiliki nilai jual. Padahal, mungkin yang kita perlukan bukan menambah satu keahlian lagi, melainkan menghubungkan keahlian-keahlian yang sudah kita miliki.
Seorang guru mungkin memiliki pengalaman mengajar, memahami teknologi, dan terbiasa membuat materi. Seorang manajer mungkin memiliki pengalaman memimpin tim, memahami bisnis, dan cukup baik dalam komunikasi. Seorang trainer mungkin memiliki kemampuan fasilitasi, pengalaman di lapangan, dan pemahaman tentang industri tertentu.
Masing-masing kemampuan itu mungkin tidak luar biasa jika berdiri sendiri. Tetapi ketika bertemu, ia bisa menjadi kombinasi yang unik dan WOW.
Dan ini juga membuat saya teringat pada gagasan yang cukup menarik di buku The Personal Branding Playbook: personal brand yang kuat tidak dibangun hanya dengan mengatakan bahwa kita seorang expert, tetapi dengan menjadi jelas tentang apa yang kita ingin dikenal, expertise apa yang kita bawa, dan bagaimana expertise tersebut menciptakan value bagi audience.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi, “Apa lagi yang harus saya pelajari?” Kadang pertanyaannya justru, “Apa yang bisa terjadi kalau semua yang sudah saya kuasai selama ini saya kombinasikan?”
#3 Jangan Menjual Apa yang Anda Buat. Jual Perubahan yg Dijanjikan.
Ini mungkin bagian yang paling saya kepikiran setelah rekaman selesai disimak.
Ketika membuat produk berbasis expertise, kita sering terjebak menjelaskan produknya. “Empat sesi coaching.” “Enam modul pembelajaran.” “Dua belas template.” “Bonus ebook.” Semua itu memang penting, tetapi itu baru menjelaskan apa yang kita berikan, belum menjelaskan mengapa orang membutuhkannya.
Saya jadi ingat tulisannya si Ian Brodie di ebooknya, Email Persuasion, ia menekankan pentingnya memahami tujuan, aspirasi, masalah, dan tantangan calon klien sebelum menentukan apa yang dikomunikasikan. Menurutnya, pemahaman tersebut membantu kita menentukan bukan hanya produk atau layanan apa yang ditawarkan, tetapi juga manfaat apa yang perlu ditekankan dan bahasa seperti apa yang akan terasa relevan bagi mereka.
Ini mengubah cara kita seharusnya menjelaskan expertise.
Orang tidak membeli dua jam konsultasi. Mereka membeli kemungkinan untuk mendapatkan kejelasan atas persoalan yang selama ini membuat mereka buntu. Orang tidak membeli enam modul. Mereka membeli perubahan yang diharapkan terjadi setelah mempelajari keenam modul tersebut. Dan orang tidak membeli pengalaman kita. Mereka membeli manfaat dari pengalaman yang kita miliki.
Karena itu, monetizing expertise mungkin bukan sekadar mengubah expertise menjadi uang, tetapi mengubah pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki menjadi sesuatu yang dapat membantu orang lain bergerak menuju kondisi yang mereka inginkan.
Kalau Anda ingin melihat bagaimana proses tersebut dibahas secara lebih lengkap, Anda bisa mulai menyimak rekaman dari sesi Monetizing Expertise yang menjadi bahan refleksi tulisan ini. Cek disini untuk mendapatkan rekamannya.
Menariknya, setelah kita tahu bahwa expertise perlu diterjemahkan menjadi value, muncul persoalan berikutnya: bagaimana membuat orang lain memahami value tersebut?
Karena punya sesuatu yang bernilai belum tentu cukup. Kita juga perlu mampu mengomunikasikannya dengan jelas.
Nah, kelas Persuasive Copywriting menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari menemukan expertise untuk dimonetisasi. Bukan sekadar belajar menulis kata-kata yang terdengar menjual, tetapi belajar bagaimana menyampaikan value dan perubahan yang kita tawarkan dengan bahasa yang relevan bagi orang yang tepat. Dan kabar baiknya Sabtu ini kelas akan live dibawakan oleh Mas Putra Raharja (copy.raharja)
In the end, setelah corat-coret di buku catatan yg bergumul dg bekal perjalanan saya ini, lahirlah pertanyaan yang jauh lebih sederhana daripada yang saya bayangkan sebelumnya:
Dari semua yang sudah kita pelajari, kerjakan, dan alami selama bertahun-tahun, masalah apa yang sekarang bisa kita bantu selesaikan untuk orang lain?
Mungkin Anda juga bisa mulai dari pertanyaan yang sama.
Boleh jadi Anda memang membutuhkan skill baru. Tetapi sebelum memutuskan untuk belajar sesuatu yang baru, mungkin ada baiknya melihat kembali apa yang sudah Anda miliki. Bisa jadi ada pengalaman yang selama ini Anda anggap biasa, ada kemampuan yang tidak lagi terasa istimewa, atau ada kombinasi beberapa skill yang belum pernah Anda lihat sebagai sebuah offer.
Mungkin yang selama ini kurang bukan expertise Anda. Mungkin juga Anda hanya belum menemukan nilai dari apa yang sudah di miliki dan belum belajar bagaimana membuat orang lain melihat nilai tersebut.
Jika Anda ingin mengkhatamkan dua bagian tersebut lebih terstruktur, saya sarankan untuk mendapatkankan akses paket High-Value Expertise yg menggabungkan Monetizing Expertise dan Persuasive Copywriting: menemukan dan menerjemahkan value dari expertise, lalu belajar mengkomunikasikannya kepada orang yang tepat.
Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di catatan lainnya
~R
Discover more from trainingpreneur
Subscribe to get the latest posts sent to your email.