Coba buka catatan atau folder draf di smartphone Anda. Ada satu draf konten yang sudah berbulan-bulan tinggal di sana, kan? Mungkin caption yang baru separuh jadi, naskah video yang belum direkam, atau carousel yang tinggal satu slide terakhir. Ide utamanya sudah ada, kalimat pembukanya sudah ada. Setiap beberapa minggu Anda membukanya, mengganti satu-dua kata, lalu menutupnya lagi. Alasannya selalu tersedia: lagi tidak mood, belum sempat, nanti saja kalau suasananya lebih tenang.
Biasanya kita menyebut ini tentang disiplin, lalu mencari cara menaikkan motivasi diri. Tapi coba perhatikan: orang yang sama ini sanggup mengerjakan hal-hal yang jauh lebih berat di pekerjaannya setiap hari. Jika urusannya cuma disiplin, draf itu mestinya sudah tayang. Jadi mungkin pertanyaannya yang kurang tepat. Daripada bertanya kenapa mood tidak datang-datang, lebih berguna bertanya: siapa sebenarnya yang sedang saya tunggu?
Ada 3 penyebab mengapa terjadi fenomena tersebut yaitu:
#1 Menunggu Sempurna
Yang pertama mungkin paling sering kita alami dan terasa cukup familier. Kita ingin tulisan atau konten yang rapi, sudut pandang yang tajam, tampilan dan desain yang pantas. Standar tinggi itu baik, sampai suatu titik. Setelah titik itu, standar tidak lagi dipakai untuk memperbaiki karya, tapi untuk menahannya supaya tidak tayang.
Alasannya masuk akal kalau dipikir. Draf yang tidak tayang tidak bisa dinilai siapa pun, jadi rasanya aman. Di belakangnya sering ada ketakutan yang kadang bergelayut: tulisan atau konten kita di-screenshot lalu dikirim ke grup WhatsApp untuk ditertawakan atau komentar netizen yg siap menyerang opini yg kita bangun dan berseberangan dg pemikirannya.
#2 Menunggu Kepantasan
“Saya belum pantas bicara soal ini.” Kalimat ini biasanya keluar bersama kerendahan hati yang tulus, makanya susah dikenali sebagai penghalang. Padahal di sinilah wujud izin itu paling jelas. Kita menunggu seseorang, entah siapa, memberi stempel bahwa kita sudah boleh bicara. Stempelnya bisa berupa gelar, jabatan, jumlah pengikut, atau sekian tahun di bidang itu. Dan stempel itu tidak pernah datang, karena memang tidak ada yang bertugas mengeluarkannya.
Amelia Sordell, dalam bukunya The Personal Branding Playbook, membedakan expertise dari expert. Expert adalah sebutan dari orang lain, dan biasanya datang belakangan. Expertise adalah apa yang sudah Anda tahu dan kerjakan sekarang.
Seorang trainer yang tiga tahun terakhir terus memperbaiki cara membuka kelas pelatihan yang menggugah punya expertise tentang hal tersebut, walaupun tidak ada yang memanggilnya pakar. Untuk berbagi, ia cukup satu langkah di depan orang yang ingin ia bantu.
#3 Menunggu Alat & Suasana yg Pas untuk Bikin Konten
Yang ketiga ini paling gampang dibenarkan karena kelihatan seperti persiapan: kamera yang lebih bagus, template yang lebih rapi, aplikasi penjadwal, ruang kerja yang tenang, dan tentu saja mood. Alat memang membantu. Hanya saja, izin yang bisa dibeli itu enak sekali dijadikan alasan, karena kita merasa sedang maju padahal sedang berputar di tempat.
Ada tes sederhananya. Anggap alat yang Anda tunggu sudah ada di meja sekarang. Apakah draf itu langsung tayang? Jika jawabannya masih “belum”, berarti alat bukan masalahnya, kan?
Mood kita sebenarna juga bisa diuji. Tidak sedikit orang yang rutin menulis mengaku semangatnya baru datang setelah mulai, bukan sebelumnya. Oke, jangan percaya begitu saja. Tulis sepuluh menit tanpa menunggu apa-apa, lalu lihat apakah suasana hati Anda ikut berubah.
Ketakutan vs Realitas
Kita sering membayangkan satu skenario terburuk dengan sangat detail, tapi jarang bertanya seberapa mungkin itu benar-benar terjadi. Coba ingat tulisan orang lain yang Anda baca minggu lalu. Berapa banyak yang masih Anda ingat, apalagi sampai Anda cari-cari kekurangannya? Kebanyakan lewat begitu saja di antara puluhan hal lain di layar. Orang lain juga sedang sibuk dengan draf, pekerjaan, dan kecemasannya sendiri.
Ini tidak berarti tidak akan ada yang mengkritik. Pasti ada, dan kadang kritiknya berguna. Tapi kritik atas tulisan yang sudah tayang memberi Anda bahan untuk memperbaiki. Kritik yang hanya terjadi di kepala tidak memberi apa-apa selain alasan untuk menunda lagi. Dari dua jenis kritik itu, hanya satu yang bisa Anda pelajari.
Menunda terasa gratis karena kerugiannya tidak kelihatan. Tidak ada tagihan, tidak ada notifikasi. Padahal di luar sana ada orang yang sedang mencari jawaban atas masalah yang sebenarnya Anda pahami, dan ia tidak menemukan Anda. Yang ia temukan adalah rekan dengan keahlian setara, mungkin malah lebih dangkal, yang kebetulan lebih dulu tayang. Ia dikenal duluan bukan karena lebih bagus, tapi karena lebih kelihatan dahulu daripada Anda.
Orang yang paling peduli pada mutu sering justru yang paling jarang terlihat. Tidak ada yang tahu apa yang tidak pernah ditayangkan, termasuk orang yang sebenarnya membutuhkannya.
Mulai dari Satu Draf
Anda tidak perlu mengubah kepribadian atau jadi orang yang berbeda. Cukup ambil draf yang paling lama mengendap, lalu jawab tiga pertanyaan ini.
- Satu gagasan apa yang sungguh ingin saya sampaikan?
- Siapa satu orang yang akan terbantu?
- Bagian mana yang bisa dibuang tanpa menghilangkan gagasan itu?
Misalnya Anda konsultan yang sering ditanya klien soal merapikan arus kas, dan draf yang mengendap berjudul “Lima Kesalahan Mencatat Keuangan Usaha Kecil”. Tiga pertanyaan tadi mungkin menghasilkan begini: gagasannya cukup satu kesalahan saja, yaitu mencampur uang pribadi dengan uang usaha. Orang yang terbantu adalah satu pemilik warung yang pernah bertanya kepada Anda. Empat kesalahan lainnya bisa menunggu tulisan berikutnya.
Nah, draf lima poin yang tidak pernah selesai tadi berubah menjadi tulisan satu gagasan yang bisa tayang malam ini, dan tulisan berikutnya sudah punya bahan.
Gagasan dalam tulisan ini adalah bagian dari modul Mindset di kelas Authentic Personal Branding (APB), dua sesi Yang akan dilaksanakn pada 31 Oktober – 1 November 2026. Di kelas ini Coach Aji akan membahas lebih jauh tentang ara menemukan sudut pandang sendiri dan membangun sistem supaya tampil tidak bergantung pada semangat sesaat. Jika tulisan ini terasa seperti sedang bicara kepada Anda, kelasnya mungkin layak dipertimbangkan. Jika belum, satu draf tadi sudah cukup untuk dicoba hari ini.
Discover more from trainingpreneur
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
