Bayangkan dua orang yang sama-sama ahli mengelola keuangan keluarga. Pelatihannya setara, pengalamannya mirip, dan keduanya rajin menulis. Tapi kalau Anda membuka kedua akun tersebut, kesannya jauh berbeda.
Yang satu selalu mulai dari cerita: pasangan muda yang gajinya habis di tanggal 20, dan bagaimana angka-angka kecil menyelamatkan bulan mereka.
Yang satunya hampir tidak pernah bercerita. Ia membongkar satu kebiasaan umum, misalnya menabung dari “sisa” di akhir bulan, lalu menunjukkan hitungan kenapa cara itu jarang berhasil.
Dua minggu kemudian, Anda mungkin sudah lupa nama keduanya. Tapi kalau seorang teman bertanya, “siapa sih yang suka bahas uang lewat cerita pasangan muda itu?”, Anda langsung ingat.
Nah, itulah yang kita sebut suara. Keahlian mereka sama. Yang membedakan adalah sudut pandang yang dipilih untuk membicarakannya.
Bagian ini yang sering terlewat.
Banyak dari kita mengira masalahnya ada di keahlian: “sudah banyak yang bahas ini, apa lagi yang bisa saya tambah?” Padahal di bidang apa pun, ratusan orang punya keahlian setara.
Yang langka adalah orang yang konsisten berbicara dari satu sudut tertentu, sampai orang lain bisa mengenalinya bahkan sebelum melihat namanya.
Autentik tidak sama dengan spontanitas
Ada anggapan populer bahwa autentik berarti apa adanya, keluar begitu saja, tanpa dipikirkan. Kalau begitu, orang yang merencanakan kontennya pasti kurang jujur. Anggapan ini membuat banyak orang serba salah. Menulis secara spontan, hasilnya acak dan tak ada benang merahnya. Merencanakan, rasanya seperti sedang berpura-pura.
Coba pisahkan dua hal ini. Isi kontennya harus jujur: apa yang Anda yakini, apa yang pernah Anda alami, apa yang sungguh Anda kerjakan.
Sedangkan cara menyajikannya boleh dipilih dengan sengaja. Penulis yang jujur pun tetap memilih kata, mengatur urutan, dan memutuskan apa yang ditaruh di paragraf pertama.
Tidak ada yang menyebutnya palsu. Memilih sudut pandang itu sejenis dengan keputusan editorial tadi, hanya saja bahannya adalah hal-hal yang memang benar tentang Anda.
Kenapa meniru terasa ‘palsu’?
Cara paling muda untuk melatih POV adalah meminjam. Saat kita melihat akun yang cukup ramai, lalu menirukan formatnya, kalimat pembukanya, bahkan gaya bercandanya. Hasilnya jarang memuaskan, dan biasanya kita sendiri yang pertama merasa janggal.
Sebabnya simpel. Sudut pandang atau POV itu tumbuh dari pengalaman orang lain: cerita yang ia alami, kebiasaan yang ia lawan, klien yang ia hadapi. Kita memakai pakaiannya, tapi isi lemarinya tidak ikut. Begitu seseorang bertanya lebih jauh di kolom komentar, tidak ada bahan di belakangnya untuk dijawab.
Ada efek yang lebih halus dan tidak kelihatan juga. Meniru membuat kita terus membandingkan diri dengan orang yang ditiru, dan perbandingan itu hampir selalu kita kalahkan sendiri. Yang kita lihat dari dia adalah hasil akhir yang rapi, sedangkan yang kita lihat dari diri sendiri adalah proses yang berantakan.
Nah, ini bukan berarti belajar dari orang lain itu salah. Mengamati cara orang menyusun tulisan atau membuka cerita akan bermanfaat untuk kita. Yang bermasalah adalah ketika yang kita ambil bukan caranya, tapi sudut pandangnya.
Mencari POV Autentik dari Dalam Diri
Jika tidak boleh meminjam, dari mana POV itu datang? Dari tempat yang sebenarnya sudah ada pada diri Anda. Ada tiga pertanyaan yang bisa dipakai untuk menggalinya.
Pertama, apa yang paling sering disalahpahami orang tentang bidang Anda, dan Anda sudah berkali-kali melihatnya sendiri?
Kedua, pengalaman atau kejadian apa yang membentuk cara Anda bekerja hari ini?
Ketiga, untuk siapa Anda paling bisa membantu, dan apa yang mereka rasakan sebelum bertemu Anda?
Bayangkan satu keahlian saja, misalnya menulis proposal. Dari pertanyaan pertama, lahir sudut pandang yang membongkar mitos: proposal yang panjang tidak otomatis lebih meyakinkan. Dari pertanyaan kedua, lahir sudut pandang cerita: pengalaman proposal yang ditolak tiga kali dan apa yang akhirnya berubah.
Dari pertanyaan ketiga, lahir sudut pandang yang menyapa satu kelompok: freelancer pemula yang takut menyebut harga. Keahliannya satu, tapi tiga akun yang mengambil tiga sudut itu akan terasa seperti tiga orang berbeda. Dan ketiganya sama-sama jujur.
Anda ingin dikenal karena apa?
Setelah punya sudut pandang, Anda perlu tempat untuk menaruhnya. Amelia Sordell, di bukunya The Personal Branding Playbook, konten pilar berisi beberapa tema besar yang Anda bahas berulang-ulang, tempat orang belajar bahwa Anda dikenal karena apa.
Konten pilar membuat Anda bisa beragam tanpa tercerai-berai. Konten hari ini boleh berupa cerita, besok berupa pendapat, lusa berupa panduan, tapi semuanya pulang ke rumah yang sama.
Tanpa konten pilar, konten cenderung melompat ke mana pun yang sedang terasa menarik, dan audiens akhirnya tidak yakin harus mengingat Anda sebagai apa. Cara mengujianya gampang. Tanyakan pada tiga orang yang mengikuti Anda, “menurutmu aku ini biasanya bahas apa?”
Kalau jawabannya mirip-mirip, konten pilar Anda sudah bekerja cukup baik.
Daftar topik yang tidak akan Anda bahas
Satu hal lagi yang perlu diluruskan. Autentik itu juga tidak berarti membuka semuanya. Sordell menyarankan sesuatu yang ia sebut no-fly list, yaitu daftar topik yang sejak awal Anda putuskan tidak akan dibawa ke ruang publik. Isinya berbeda-beda untuk tiap orang: mungkin urusan keluarga, konflik dengan rekan kerja, atau hal-hal yang belum selesai Anda proses sendiri.
Terdengar membatasi, tapi efeknya justru sebaliknya. Orang yang punya batas jelas bisa jujur dengan tenang di wilayah yang tersisa.
Sedangkan orang yang tidak punya batas sering baru sadar setelah kebablasan membagikan sesuatu, lalu menarik diri sama sekali dari media sosial. Jujur dan terbuka itu dua hal yang berbeda, kan. Anda boleh sepenuhnya jujur tentang apa yang Anda bagikan tanpa harus membagikan segalanya.
Satu kalimat untuk dicoba hari ini
Anda tidak perlu menemukan suara yang sempurna minggu ini. Cukup tulis satu kalimat dengan pola berikut:
“Saya membahas [keahlian Anda] dari sudut [sudut pandang], untuk [siapa].”
Kalimatnya tidak harus bagus. Anggap ini hipotesis, bukan permanen. Coba selama satu minggu, lihat konten mana yang mengundang orang ingin ikutan nimbrung (baca: engagement), lalu perbaiki. Sudut pandang yang kuat hampir selalu hasil beberapa kali revisi, bukan tebakan pertama.
Dan jika kalimat itu terasa terlalu sempit, its okey! Sudut pandang yang tajam memang terasa sempit di awal, tapi dari sanalah orang mulai mengenali ke-autentikan Anda.
Sudut pandang dan kerangka kerja adalah bagian dari modul Angle dan Framework di kelas Authentic Personal Branding (APB) batch 3, dua sesi pada 31 Oktober-1 November 2026. Jika Anda ingin melihat isi kelasnya, halamannya ada di sini. Jika belum, satu kalimat tadi sudah cukup untuk dicoba mulai hari ini.
Discover more from trainingpreneur
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
