Tulisan ini berawal dari buku catatan saya saat membersamai Coach Aji di kelas Authentic Personal Branding (APB) di batch sebelumnya, saya beberapa kali mencatat highlight, namun yang paling sering saya garis bawahi justru pertanyaan-pertanyaan pesertanya. Ini seperti membaca komentar di sebuah konten yg lagi viral.
Polanya hampir selalu mirip-mirip. Ada guru, konselor, pebisnis, dan praktisi yang kemampuannya tidak perlu diragukan, tapi begitu urusannya sampai ke media sosial, mendadak ragu dan kagok. Saya jadi bertanya-tanya: jika ilmu dan pengalamannya sudah ada dan buanyaaak, apa sebenarnya yang menahan langkah pertama? Catatan-catatan itu saya rapikan di sini, siapa tahu bisa menemani Anda yang sedang berada di titik yang sama.
Jika ditanya kenapa belum mulai, jawaban yang paling sering muncul bersifat teknis: kamera ponsel kurang bagus, mikrofon seadanya, tidak punya waktu, tidak bisa menyunting. Sebagian besar memang bisa diselesaikan. Bicara di depan kamera, misalnya, bisa dibantu dengan menulis naskah dulu lalu membacanya satu kalimat demi satu kalimat.
Menurut Coach Aji, hambatan teknis hanya sekitar seperlima dari persoalan, sisanya urusan mental. Angka tersebut adalah hasil pengamatan beliau, bukan hasil riset akademik. Tapi mari kita coba uji pada diri sendiri dengan mengajukan pertanyaan berikut: jika semua alat dan waktu tersedia besok pagi, apakah Anda otomatis mulai? Kalau jawabannya ragu-ragu, berarti hambatannya memang ada di tempat lain.
Coach Aji menyebut wilayah itu inner game, istilah yang beliau meminjam dari W. Timothy Gallwey (1974) dalam The Inner Game of Tennis. Gallwey menulis bahwa setiap permainan punya dua bagian. Permainan luar dimainkan melawan lawan dan hambatan eksternal. Permainan dalam terjadi di kepala pemain, melawan konsentrasi yang buyar, rasa gugup, keraguan pada diri sendiri, dan kebiasaan menyalahkan diri. Penulis, konselor, konsultan, dan pembuat konten juga bermain di dua arena itu, dan pertarungan terbesarnya sering kali ada di dalam.
Pahami Dulu Apa yang Sedang Dibangun
Sebelum membahas hambatannya, ada satu hal yang perlu diluruskan, karena sebagian hambatan lahir dari salah paham. Di kelas APB, personal branding yang autentik dirumuskan sebagai aktivitas membangun reputasi (itu tujuannya), dengan menceritakan diri secara relevan untuk membantu orang yang tepat (itu caranya), sehingga kita dipercaya mendapatkan peluang yang selaras dengan diri kita (itu hasilnya). Ada kalimat yang sering dikaitkan dengan Jeff Bezos yang sejalan dengan ini: brand adalah apa yang orang katakan tentang kita ketika kita tidak berada di ruangan.
Kata kuncinya “relevan”. Tidak semua hal tentang diri kita perlu diceritakan, hanya yang nyambung dengan orang yang ingin dibantu. Dan personal branding tidak sama dengan memilih label, tidak sama dengan menjadi terkenal. Coach Aji bercerita tentang seorang pemilik akun dengan puluhan ribu pengikut yang kesulitan menjual coaching karier, karena pengikutnya kebanyakan lulusan baru yang belum bekerja.
Followers-nya banyak, tapi tidak tepat sasaran. Beliau meyakini sebagian besar hambatan mental akan mereda begitu konsep yang autentik ini dipahami, dan itu masuk akal: banyak hambatan muncul karena kita mengira sedang diminta berakting atau mengejar popularitas.
5 Hambatan Mental & Cara Melewatinya
Di sesi kedua di kelas APB, Coach Aji membahas solusinya satu per satu. Beliau menegaskan bahwa ini rekomendasi, bukan satu-satunya jalan, dan Anda mungkin menemukan cara lain lewat eksperimen sendiri. Saya rangkum di bawah ini.
1. Jebakan Perfeksionisme
Ini terdengar seperti “tulisan saya belum bagus”, “ngomong saya belum sistematis”, atau “alat saya belum proper”. Coach Aji menyebut akar hampir semua penundaan adalah perfeksionisme: kita enggan memulai, atau enggan menyelesaikan, karena merasa belum sempurna.
Beliau membedakan perfect dan excellent. Mengejar hasil yang unggul sebaik mungkin itu sehat. Mengejar hasil tanpa celah sama sekali itu mustahil, jadi kita mengejar sesuatu yang memang tidak bisa dikejar. Solusinya: fokus pada progres, bukan kesempurnaan. Apresiasi kemajuan sekecil apa pun hari ini, lalu niatkan agar besok sedikit lebih baik, dan ulangi.
2. Sindrom Impostor
Pernah dengar suara seperti ini dalam hati?
“Nanti saja kalau pengalaman saya sudah lebih banyak”, “nanti kalau klien saya sudah lebih banyak”.
Kita takut dianggap tidak sehebat yang kita tuliskan.
Jika Anda ditanya, ilmu apa yang bisa kita kuasai dengan sempurna? Padahal, semakin dalam kita belajar, makin sadar ilmu itu tidak ada batasnya, jadi menunggu “cukup hebat” berarti menunggu sesuatu yang tidak pernah tiba.
Solusinya sebenarnya simpel, jadikan audiens Anda diri sendiri tiga tahun lalu, atau lima tahun lalu kalau tiga terasa terlalu dekat. Apa yang ingin Anda ajarkan kepadanya? Selalu ada orang yang berada di titik itu, yang akan terbantu oleh apa yang Anda ketahui sekarang.
3. Takut pada opini orang lain
Di catatan saya, hambatan ini disebut FOPO, fear of other people’s opinion. Solusinya mudah, fokus pada apa yang ada dalam kendali Anda. Komentar dan opini orang lain bukan salah satunya, dan mencoba mengendalikannya hanya menguras tenaga.
Energi itu lebih baik dipakai untuk memperbaiki konten dan mengasah keterampilan. Kritik layak didengarkan kalau datang dari orang yang ahli di bidangnya, mengenal Anda, dan peduli pada kemajuan Anda.
Jika salah satunya tidak ada, kritiknya bisa menyesatkan. Komentar di media sosial hampir selalu tidak memenuhi ketiganya. Dan sering kali, opini yang kita takutkan itu belum pernah ada. Ia baru ada di kepala kita.
4. Dilema moral
Ini terjadi ketika tampil terasa bertentangan dengan nilai atau keyakinan kita, misalnya keyakinan bahwa berbuat baik tidak perlu dikenal orang. Coach Aji mengaku pernah mengalaminya sendiri, seperti sebuah nasihat agama tentang orang yang tersembunyi terus terngiang setiap kali beliau hendak tampil, dan beliau baru bisa mulai setelah hal itu “diberesin” di dalam diri.
Solusinya yg bisa dicoba adalah menemukan sebanyak mungkin niat baik di balik aktivitas ngonten, lalu menyelaraskannya dengan niat yang lebih tinggi sesuai nilai yang Anda pegang. Jika niatnya jelas, bentrokan itu mereda.
5. Konflik identitas
“Tampil itu bukan saya banget.” Bisa karena kita introver, bisa karena merasa kurang percaya diri secara bakat, atau karena membayangkan personal branding sebagai pencitraan.
Solusinya, jadikan ngonten sebagai perpanjangan dari bakat, sifat, dan aspirasi Anda, bukan peran tambahan yang harus dimainkan. Contohnya, anda bisa meng-imitasi Coach Aji.
Beliau punya kecenderungan kuat sebagai pembelajar, jadi niatnya adalah mendokumentasikan apa yang dipelajari. Sekitar sembilan tahun lalu beliau belajar design thinking dan tidak kunjung paham, lalu menuliskan ulang pemahamannya sebagai catatan belajar di blog. Niatnya mencatat belajar, bukan tampil sebagai pakar.
Ada alasan kuat untuk menghindari topeng. Tinjauan meta-analisis Hülsheger dan Schewe (2011) atas 95 studi menemukan bahwa surface acting, yaitu menampilkan perasaan yang sebenarnya tidak dirasakan, berkaitan kuat dengan indikator kesejahteraan yang terganggu. Penelitian tersebut berangkat dari dunia kerja pelayanan, bukan personal branding, tapi logikanya mirip: semakin jauh yang kita tampilkan dari yang kita rasakan, semakin besar tenaga yang terkuras.
Jika sampai di sini Anda merasa mengenali satu atau dua dari lima hambatan itu, kelas APB batch 3 di akhir Oktober ini mungkin cocok untuk Anda. Coach Aji membahasnya lebih runtut pada dua sesi, 31 Oktober & 1 November 2026, tanpa gimmick dan tanpa memaksa Anda menjadi orang lain. Rincian kelasnya ada di halaman ini. Tapi sebelum ke sana, mari lanjut dulu ke langkah awalnya.
Jangan Tunggu Hambatannya Hilang
Satu catatan penting dari Coach Aji, jangan menunggu kelima hambatan itu lenyap sebelum mulai. Rasa ragu dan cemas boleh ikut berjalan, sebagai bagian dari ketidaksempurnaan kita. Beliau mengutip Carl Rogers (1961) yang menulis dalam On Becoming a Person bahwa paradoksnya, perubahan justru mungkin terjadi ketika kita menerima diri apa adanya. Menerima dan berubah ternyata tidak bertentangan.
Herminia Ibarra (2015) mengajukan hal yang sejalan dari sisi riset kepemimpinan yang berbunyi, kita menemukan gaya yang cocok dengan mencoba berbagai pendekatan, dan berganti gaya tidak sama dengan berpura-pura.
Jadi kenali diri sambil berkarya. Dari beberapa postingan, Anda akan tahu sendiri bahwa Anda tidak cocok dengan audiens tertentu, atau cepat jenuh kalau membahas topik yang itu-itu saja. Merenung saja tidak cukup untuk sampai ke sana.
4 Langkah Praktis yang Layak Dicoba
Pertama, kenali hambatan Anda. Dari lima tadi, tandai satu yang paling sering terasa, lalu tuliskan satu kalimat solusinya dengan kata-kata Anda sendiri. Tidak perlu semuanya sekaligus, cukup dicicil.
Kedua, tuliskan satu kalimat tentang orang yang ingin Anda bantu dan masalah apa yang mereka hadapi. Bayangan satu orang itu menentukan konteks, termasuk bahasa yang Anda pakai, dan sering kali meredakan kebingungan “ngonten apa ya?”.
Ketiga, mulai mendokumentasikan, jangan memaksa menciptakan. Di kelas APB, konten dipandang sebagai proses mengubah bahan mentah, yaitu ide, insight, dan informasi, menjadi sesuatu yang bernilai bagi orang lain. Bahan mentah itu muncul setiap hari dari buku, film, obrolan, atau kejadian di tempat kerja. Yang membedakan hanyalah dicatat atau tidak. Bawa buku catatan atau pakai catatan di ponsel, dan anggap itu tumpukan batu bata untuk rumah yang akan Anda bangun nanti.
Keempat, ulangi siklus aksi dan refleksi. Tulis atau rekam sesuatu yang sederhana, unggah, lihat tanggapannya, lalu perbaiki sedikit di konten berikutnya. Di awal, bangun kebiasaannya dulu dan jangan terlalu pusing dengan kalender dan kategori konten yang rumit. Ada sisi leganya juga, karena Anda belum punya personal brand yang mapan, belum ada yang bisa “rusak” oleh satu-dua unggahan yang kurang pas. Mumpung belum terkenal, justru inilah waktu terbaik untuk mencoba, tul kan?
Jika Anda ingin memulai dengan panduan yang lebih runtut, Coach Aji akan membedahnya di kelas Authentic Personal Branding (APB) batch 3, dua sesi pada 31 Oktober & 1 November 2026.
Kelas ini cocok untuk Anda yang punya ilmu dan pengalaman, tapi masih ragu bagaimana memperkenalkannya kepada orang lain. Tidak ada gimmick, tidak ada citra yang harus dipoles, dan tidak ada tuntutan menjadi orang lain. Anda akan menyusun fondasinya pelan-pelan, mulai dari memahami arti personal branding yang autentik sampai membangun kebiasaan berkarya yang bisa Anda jalani sendiri, sesuai sifat dan ritme Anda. Kalau terasa pas, silakan lihat rincian kelasnya di halaman berikut . Jika belum, empat langkah di atas sudah cukup untuk dicoba mulai pekan ini.
Referensi:
Gallwey, W. T. (1974). The Inner Game of Tennis. Random House; Hülsheger, U. R., & Schewe, A. F. (2011). On the costs and benefits of emotional labor: A meta-analysis of three decades of research. Journal of Occupational Health Psychology, 16(3), 361–389; Ibarra, H. (2015).
The Authenticity Paradox. Harvard Business Review, 93(1–2), 52–59 (abstrak);
Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person. Houghton Mifflin.
Discover more from trainingpreneur
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
