Ada satu ketakutan yang jarang dibicarakan secara jujur oleh para profesional, tapi efeknya seperti rem mendadak saat mau posting konten: takut dibilang pamer.
Rasa takut ini unik. Dia nggak selalu muncul sebagai panik yang heboh. Seringnya, dia cuma berupa bisikan halus di kepala: “Ah, nanti dikira sok tahu,” atau “Ini terlalu berlebihan nggak ya?”
Akhirnya? Gak jadi bikin konten 😅. Pesan diperhalus sampai kehilangan taringnya. Sudut pandang ditarik mundur biar aman.
Ironisnya, ketakutan ini justru sering dialami oleh orang-orang yang punya integritas tinggi. Kamu nggak mau terlihat mengada-ada. Kamu nggak mau dianggap “jualan melulu”.
Tapi, gara-gara terlalu hati-hati, personal branding-mu jadi jalan di tempat. Orang tahu kamu ada, tapi nggak benar-benar merasakan kehadiranmu.
Nah, biar nggak terjebak di sini terus, kita perlu ubah cara pandang. Mari kita bedah masalah ini bareng Austin Kleon (Steal Like an Artist) dan Dan Koe (The Art of Focus).
1. Kalau Kontenmu Terasa Hambar, Mungkin Kamu Terlalu “Menyembunyikan Dapur”
Austin Kleon punya prinsip menarik, “karya apa pun nggak pernah lahir dari ruang hampa. Selalu ada referensi, proses belajar, dan pengaruh dari sana-sini di baliknya.”
Masalahnya, kita sering menahan diri untuk menceritakan proses itu karena takut dibilang nggak orisinal.
Imbasnya, konten yang keluar cuma hasil akhir yang “aman”. Rapi sih, tapi datar. Ada informasinya, tapi nggak ada nyawanya.
Kleon justru menyarankan sebaliknya: Tunjukkan dapurmu. Tunjukkan proses berpikirmu, buku apa yang kamu baca, atau kesalahan apa yang kamu pelajari.
Ingat, berbagi proses itu bukan pamer. Itu cara paling jujur untuk menunjukkan dari mana value kamu berasal.
Coba cek sekarang, kalau kontenmu terasa hambar, jangan-jangan bukan karena kamu kekurangan ide. Tapi karena kamu terlalu sibuk memoles hasil akhir dan menyembunyikan proses berpikir yang justru bernilai buat orang lain.
2. Fokus yang Salah Bikin Kita Cemas
Dan Koe, di bukunya The Art of Focus, menyoroti penyakit profesional modern: perhatian kita gampang banget terpecah ke hal yang salah.
Banyak orang membangun personal branding dengan fokus berlebihan pada reaksi orang lain. Kita sibuk memikirkan like, komentar, atau penghakiman orang.
Saat fokus utamamu adalah “penilaian orang”, setiap kalimat yang kamu tulis bakal terasa berisiko. “Nanti dikritik nggak ya?”, “Nanti di komen aneh-aneh sama netizen”
Ini yang bikin capek mental.
Om Dan Koe menyarankan kita untuk menggeser fokus. Alih-alih mikirin “bagaimana saya dinilai”, coba fokus ke “apa yang sedang saya jelaskan”. Ketika tujuannya adalah kejelasan pesan, rasa takut dibilang pamer perlahan bakal hilang.
Bedanya Pamer vs Berbagi Nilai
Sering kali kita bingung membedakan keduanya. Padahal, bedanya sederhana:
- Pamer biasanya berbentuk klaim.
- Berbagi Nilai berbentuk penjelasan.
Klaim itu menuntut pengakuan (“Saya ahli lho!”). Penjelasan menawarkan pemahaman (“Begini lho cara saya menyelesaikan masalah ini”).
Austin Kleon menyarankan agar kita berhenti berusaha terlihat hebat, dan mulai berusaha terlihat jujur.
Jadi, kalau kamu ragu apakah kontenmu bakal terlihat pamer atau nggak, cek aja bentuknya. Kalau isinya cuma klaim sepihak, rapikan. Tapi kalau isinya penjelasan tentang pola pikir atau solusi, lanjut terus.
Sedikit Intermezzo…
Banyak orang menahan diri bukan karena nggak punya isinya, tapi karena belum nemu cara menyampaikannya tanpa rasa bersalah.
Di kelas Authentic Personal Branding, kita akan belajar bareng cara membangun narasi yang bikin kamu bisa tampil tenang—tanpa pencitraan, tanpa rasa “sok pamer”, dan tetap menjaga integritas profesionalmu.
Diam Itu Bukan Posisi Netral
Balik lagi ke Om Dan Koe. Beliau mengingatkan bahwa identitas profesional itu terbentuk dari apa yang kamu ulangi secara konsisten.
Nah, ketika kamu memilih diam atau cuma main aman, kamu sebenarnya tetap mengirimkan pesan. Sayangnya, pesan yang sampai adalah: ketidakjelasan.
Audien itu secara alami akan menyusun narasi tentang siapa kamu. Kalau kamu nggak ngasih bahan (cerita/gagasan) yang cukup, mereka akan menyusun narasi yang dangkal tentangmu.
Jadi, personal branding yang dewasa itu sadar bahwa tidak semua pesan harus diteriakkan keras-keras, tapi harus disampaikan secara konsisten. Menjelaskan sudut pandangmu itu bukan pamer; itu salah satu bentuk tanggung jawab profesional.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan Sekarang?
Biar nggak terjebak pencitraan yang bikin capek, coba terapkan prinsip Kleon dan Koe ini:
- Bagikan Proses, Bukan Cuma Hasil: Ceritakan kenapa kamu mengambil keputusan itu, bukan cuma pamer hasilnya.
- Buka Kartu Referensimu: Sebutkan dari mana idemu berasal. Ini justru bikin kamu terlihat kredibel, bukan pamer.
- Persempit Fokus: Semakin spesifik topikmu, semakin kecil kemungkinan orang menganggapmu cuma cari perhatian.
Pada akhirnya, personal branding yang matang itu nggak butuh tepuk tangan. Ia cuma butuh pemahaman.
Kamu tampil bukan biar dibilang hebat, tapi untuk membantu orang lain berpikir lebih jernih. Kalau niatnya sudah di situ, rasa takut dibilang pamer nggak bakal punya tempat lagi. Nah, bagaimana menurutmu sekarang? Setuju? Atau punya pendapat lain, yuk drop di komentar di bawah.
~R
Discover more from trainingpreneur
Subscribe to get the latest posts sent to your email.