Skip to content
Home » Bukan Butuh Jenius. Tapi Senius.

Bukan Butuh Jenius. Tapi Senius.

Selama bertahun-tahun kita dicekoki ide bahwa untuk menciptakan sesuatu yang besar, kita harus menjadi jenius. Sendirian di pojok kamar. Berpikir keras. Sampai “eureka!” momen itu muncul, lalu lahirlah karya yang mengubah dunia.

Padahal, sejarah bicara lain.

Einstein tidak bekerja dalam hampa. Di sekelilingnya ada komunitas ilmuwan yang mendebat, mendukung, dan bahkan menantangnya. Di dunia seni, The Beatles tidak tumbuh sendirian—mereka berkembang di tengah ekosistem musik Liverpool yang ramai. Di ranah pengetahuan, Abraham Maslow, Carl Rogers, Skinner, hingga Buckminster Fuller, semua saling terkoneksi. Mereka bagian dari scenius.

Apa itu Scenius?

Istilah ini dipopulerkan oleh musisi Brian Eno dan kembali disorot Austin Kleon dalam bukunya Show Your Work. Kalau genius adalah satu otak besar, maka scenius adalah kekuatan kolektif dari komunitas yang mendukung, menginspirasi, dan mendorong satu sama lain untuk berkembang.

Dan jika kamu sedang berpikir mengubah keahlian menjadi produk—kelas online, ebook, coaching—maka kamu tidak butuh jadi genius. Kamu butuh scenius.

“Saya bukan siapa-siapa.”

Itu kalimat paling sering saya dengar dari peserta webinar Monetizing Expertise. Mereka bilang:

“Keahlian saya biasa aja.”
“Siapa yang mau belajar dari saya?”
“Banyak yang lebih jago.”

Yang menarik, Mas Aji menjawab ini dengan pendekatan yang sangat membumi:

“Ajarkan saja pada versi dirimu 3 tahun yang lalu.”

Boom.

Alih-alih menunggu validasi sebagai pakar, posisikan diri sebagai mentor yang relate. Ajarkan apa yang dulu kamu butuh tahu. Bahasanya lebih membumi. Lebih bisa nyambung. Lebih “masuk” dibandingkan teori-teori dari para “expert” yang kadang sudah terlalu jauh dari realitas awal.

Dan di sinilah scenius bekerja.

Scenius Bekerja Saat Kamu Dikelilingi Orang yang Tepat

Di webinar kemarin, Mas Aji membongkar mengapa banyak orang tidak pernah memulai. Bukan karena tak bisa, tapi karena sendirian. Nggak ada yang nyemangatin. Nggak ada tempat nanya. Nggak ada yang bisa jadi cermin ide.

Padahal, komunitas yang sehat itu fungsinya bukan cuma buat support moral.

Scenius itu:

  • Tempat untuk menormalisasi proses (ternyata kita nggak sendirian merasa takut)
  • Tempat untuk menguji ide (sebelum dilempar ke publik)
  • Tempat untuk menemukan bahasa yang tepat (karena kita sering terlalu “tinggi” atau terlalu “dalam”)
  • Tempat untuk berlatih konsisten (karena melihat teman satu grup jalan terus)

Stop Mengejar Kesempurnaan Sendiri

Ada quotes yang cukup menarik kemarin:

“Imperfect action is better than perfect inaction.”

Kita sering menunda karena ingin semua sempurna. Tapi kesempurnaan tidak pernah muncul dari isolasi. Kesempurnaan adalah hasil dari umpan balik, eksperimen, dan koreksi yang terus-menerus.

Dan kamu tidak bisa melakukannya sendiri.

Kamu butuh teman seperjalanan. Kamu butuh orang yang akan membaca naskah pertamamu. Yang akan datang ke webinar percobaanmu. Yang akan bilang: “Lanjut. Ini bagus.” Atau bahkan, “Coba ganti angle-nya.”

Itulah scenius. Ruang kreatif kolektif. Dan sayangnya, tidak banyak yang menyadari pentingnya ini.

Dunia Tidak Butuh Karya Sempurna. Dunia Butuh Karya yang Dimulai.

Kalau kamu sudah cukup lama “menyimpan” keahlianmu di kepala, di catatan pribadi, atau di harddisk, mungkin sudah waktunya keluar dari ruang sendiri.

Mulailah dari apa yang kamu tahu. Ajarkan ke versi dirimu yang dulu.

Tapi jangan jalan sendirian.

Catatan Tambahan

Tulisan ini saya buat setelah mengikuti webinar Monetizing Expertise dari Coach Aji. Ada banyak insight lain yang sebenarnya tidak cukup ditulis dalam satu artikel. Mulai dari cara membuat produk edukatif yang tidak asal-asalan, membangun kepercayaan diri dengan framework Albert Bandura, sampai strategi mengubah mental block jadi rencana nyata.

Kalau kamu tertarik mendalami lebih lanjut, mungkin kamu bisa cari rekamannya. Saya sendiri dapat banyak hal setelah menontonnya ulang. Kadang, hal-hal seperti ini tidak datang dua kali.

Karena kadang, yang kamu butuhkan bukan jawaban, tapi tempat bertanya yang tepat.

Dan siapa tahu, scenius-mu sedang menunggumu di sana.


Discover more from trainingpreneur

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *